Assalamu'alaikum, salam sejahtera bagi kita semua...

SELAMAT DATAAAANG ...
Selamat menikmati blog sederhanaku ..

-Luph U All-

Minggu, 18 September 2011

Iwan Simatupang sebagai Pembaharu Sastra Indonesia

TUGAS KELOMPOK MERINGKAS BUKU “IWAN SIMATUPANG SEBAGAI PEMBAHARU SASTRA INDONESIA”
(Kelas N PBSI 2010)

Anggota Kelompok I :
Dhesi Jayanti             10201244056
Nadia Ayu P              10201244073
Ade Rakhma N.S      10201244080
Ayu Siti R                  10201244087

NOVEL-NOVEL IWAN SIMATUPANG PERGUMULANNYA ATAS AJAL
            Merahnya Merah, Ziarah, Kering, dan, Kooong; Novel-novel Iwan Simatupang terkesan berisi obsesi Iwan terhadap ajal, versus maut, kematian, m-a-t-i. Seluruh konflik yang ia taburkan baik dengan humor-lewat tokoh apa saja di kempat novelnya tadi itu, merupakan pergumulannya melawan ajal. Dalam Ziarah setidaknya 10 kali kematian disebutkan, Koong 3 kali, Kering 10 kali, dan Merahnya Merah 15 kali. Semua itu tidak lepas dari kematian istrinya, betapa besar kecintaannya pada Corry-istrinya. Wafatnya Corry inilah, agaknya genesis dari keempat novel tersebut.
             Bekas pelukis dalam Ziarah, setelah istrinya meninggal entah berapa lama yang silam. Ia kemudian terdorong ke berbagai pengalaman, pergumulan batin, sehingga pada suatu malam, di pekuburan, tatkala ia meneriakkan dengan amat nyaringnya, “SAYA MENCINTAI ISTRI SAYA-A-A!”. Itu layaknya proklamasi Iwan Simatupang sendiri kepada dunia.
TEGAK LURUS DENGAN LANGIT- CERPEN-CERPEN IWAN SIMATUPANG YANG MEMPESONA
Tegak Lurus dengan Langit merupakan kumpulan cerpen Iwan Simatupang yang dikumpulkan oleh Dami N.Toda. Di dalam berisi 15 cerpen, diantaranya; Lebih Hitam dari Hitam, Monolog Simpang Jalan, Tanggapan Merah Jambu terhadap Revolusi, Tegak Lurus dengan Langit, dan lain-lain. Cerpen-cerpennya ini hampir keseluruhannya mipip esai, karena dia pada mulanya adalah penulis esai. Cerpen-cerpenya yang pekat, tidak menarik karena kisahnya, tetapi menarik karena ide-idenya. Komitmen Iwan dengan masalah sosial masyarakatnya cukup besar, dan sebenarnya itlah yang dikemukakannya dalam karya-karyanya yang avantgarde, yang memang mendahului zamanya.
IWAN SIMATUPANG PEMBAHARU SASTRA INDONESIA
Cerpen-cerpen Iwan Simatupang adalah jarak dan unik dalam dunia percerpenan di Indonesia. Mana ada cerpen Indoonesia sedalam dan seintens cerpen Iwan dalam memasuki dunia jiwa tokoh-tokohnya. Dalam hal bahasa Iwan juga seorang master. Cerpen-cerpenna memiliki aktualitas sendiri serta mengundang studi yang luas karena kekayaannya.
IWANSIMATUPANG DAN SURAT-SURATNYA:KELAHIRAN NOVEL BARU
Sebagai seorang pengarang, surat-surat Iwan yang demikian banyaknya itu, terutama ditujukan kepada H.B.Jassin yang telah dilakukan sejak tahun 1952 banyak sekali menungkapkan sikap atau pandangan hidup sebagai literer Iwan. Termasuk pergulatan, kegelisahan, pencahariannya dan lain-lain. Nada bicaranya tegas, to the point dan berani. Sering pula berisi keluhan.

BEBERAPA CATATAN TENTANG PEMBAHARUAN IWAN SIMATUPANG DALAM PENOKOHAN DAN TEMA

            Iwan Simatupang memperlihatkan bahwa alur Iwan yang anti alur; gaya yang puitis dan esais; serta latar belakang yang indiferen merupakan akibat dari temannya yang berstruktur ganda serta tokohnya yang personality incomplete.
            Iwan dalam esainya “Sastra dan 2 x Manipulasi” mengatakan bahwa sastra bukan melahirkan konsepsi, tetapi dilahirkan dan konsepsi tertentu. Dan memang novel Iwan melahirkan tokoh-tokoh eksistensial, yakni orang-orang yang bergelut dengan permasalahan modus keberadaannya baik pilihan itu ditanggapi secara sadar maupun yang terhanyut di dalam kehidupan begitu saja. Iwan tampak mencakup kedua pola itu sekaligus. Misalnya saja di dalam Ziarah.
            Pada novel-novel Iwan, tema memiliki struktur bersusun. Jika kita membandingkan dengan tema yang diketengahkan dalam karya-karya sastra sebelum Iwan, maka tampaklah bahwa dalam hal tema Iwan telah membuka suatu wilayah baru. Memberikan suatu kemungkinan lain. Ini terlihat, jika sastra di masa sebelumnya banyak mengetengahkan masalah sosiologis-kultural. Kemudian masa berikutnya mulai menggarap permasalahan kejiwaan dan pemikiran. Iwan membuka dimensi baru dengan membuka pertanyaan pada problema metafisis. Inilah sumbangan dan tantangan Iwan bagi kesusasteraan kita selanjutnya.
FUNGSI PUITIK ALUR DALAM KOMEDI SEBARAK “PETANG DI TAMAN” *) KARYA IWAN SIMATUPANG

            Kedudukan Iwan Simatupang dalam khazanah kesusasteraan Indonesia sangat terhormat. Dengan novel-novelnya: Merahnya Merah (1968), Ziarah (1969), dan Kering (1972). Beberapa pengamat sastra mempredikati ketiga novel itu sebagai nouveau roman.
            Rangkaian kejadian dalam PDT tidak berputar pada satu persoalan inti yang dikelilingi oleh persoalan-persoalan tambahan. Seluruh rangkaian kejadian dalam PDT membeberkan beberapa persoalan yang kadang-kadang tidak saling berhubungan sama sekali.
            Irama alur inilah yang akan menentukan daya tarik alur PDT ini. Tanpa irama alur yang hidup, alur PDT ibarat perkembangan garis mendatar yang tunggal nada, monotone, dan membosankan.
            Orientasi PDT ini terlukis pada tempat dan alat yang terlihat pada kata “taman” dan “bangku”. Juga terdapat orientasi tokoh. Orientasi yang dilukiskan PDT dengan dua buah petunjuk pentas tersebut sudah cukup padat.
F. WIDYASTANTO
SIAPA MAU MENYUSUL EKSISTENSIALIS DARI SIBOLGA?

            Iwan Martua Dongan Simatupang. Kehadirannya menjadi berharga. Nama seperti Chairil atau Pram dengan mudah orang temukan sebagai monumen klasik dalam perjalanan sastra. Tetapi jenis novel seperti Merahnya Merah (1969) atau Ziarah atau Kering yang ketiganya bermain dalam satu mata rantai; lalu juga Kooong yang diterbitkan posthumous.
            J.P. Sartre telah menempatkan diri pada kesadaran akhir dari apa yang mampu diserap oleh manusia masa sekarang. Di tengah gelombang kemajuan ilmu dan teknologi. Ilmu dan kemampuan tinggi dari intelegensi manusia seakan telah mampu menjerit dan makan umat manusia itu sendiri. Tingkat nafsu hegemoni politik dan ekonomi telah memuncak sedemikian dahsyat, sehingga pada gilirannya nilai yang paling asasi dalam kebudayaan dan peradaban lenyap ditelan oleh kegilaan.
            Anomalie dalam diri dan sejarah hidup Iwan Simatupang hanya bisa dipahami dari titik tolak ini. Tetapi dilihat dari sebuah perspektif budaya dan sejarah, maka pergulatan Iwan untuk menangkap diri, merumuskan dan menghadirkannya sebagai "iwan”, sebagai aku dan subyek. Upaya semacam itulah mengandung nilai heroik dan benar atas harga diri kesadaran yang semakin tua dari masa sekarang.
            Ketidakmampuannya untuk meloncat dari jabatan gairah individual telah memaksanya seolah menjadi semakin parah dan remuk pada dataran kesadaran itu.
 “TAMAN” IWAN SIMATUPANG
            Bagian pembukaan drama ini menyajikan beberapa problema yang menarik; beberapa konstatasi, perwatakan dan segi kejiwaan kefisikan sebuah karya literer. Drama ini menyajikan ide pokok tentang kehadiran. Settingnya mencerminkan sebuah pola gagasan tentang keberadaan. Taman adalah milik umum-kecuali taman di rumah sendiri-semacam firdaus kecil yang  menerima kehadiran entah siapa, entah kapan, dengan problema apa, dengan masalah bagaimana, dengan keisengan atau kemestian.
IWAN SIMATUPANG:KERAKYATJELATAAN UNIVERSAL NOVEL BARU INDONESIA
             Faktor  ketidaksengajaan seringkali menentukan dalam proses penulisan karya karya Iwan. Iwan sangat menyukai gaya bahasa yang padat , yang terkadang menimbulkan kesan kaku pada rasa kalimatnya.Misalnya, kita baca kalimat-kalimatnya yang terakhir dalam novelnya Ziarah yang  di terbitkan PT Gunung Agung, Jakarta, tahun 1969, pada halaman 197.
            “Tiap langkahku menginjak perkuburan tertentu dari mayat-mayat tertentu di bumi yang bersejarah telah jutaan tahun. Iwan Simatupang adalah penuis yang unik.Ia manususia yang banyak mengandung kontradiksi dan kompleksitas yang tidak kepalang. Penggunaan bahasa dari Iwan bukan sekedar sebagai alat penyampai atau penghantar isi pikiran atau dipergunakan sebagai “tunggangan” dari ide-idenya belaka.
            Ada dua masalah besar yang masih harus dihadapi oleh Iwan Simatupang  yaitu: 1.Bagaimana ia menyuguhkan ide-idenya yang merupakan pengalaman batin dan kekayaan ideologisnya sanggup tampil ayau lahir dalam bentuk literer. 2.Bagaimana ia sanggup memberikan karya karya yang semakin baik, semakin bobotnya bertambah dan selalu relevan dengan persoalan persoaln terpenting bagi kehidupan masyarakatnya.
            Iwan selalu menyongsong dengan positif setiap tokoh pemberontakan, rebeli, revoltan, yang bergerak menghabiskan hidupnya untuk manusia lain, untuk masyarakat jelata sekarang dan masyarakat jelata zaman yang akan datang.Peristiwa dan masalah sentral karya Iwan adalah selalu masyarakat menderita,  masyarakat jelata.
            Aliran Iwan Simatupang hanyalah Iwan Simatupang sendiri.Latar belakang hidupnya sangat kompleks dan luar biasa luas pengembaraan pemikiran dan ide-idenya.
IWAN SIMATUPANG DAN TRAGEDINYA
Kegagalan Iwan Simatupang
           Dari surat pribadi Iwan yang ditulisnya tanggal 12 Desember 1968(dari Hotel Salak Bogor H.B. Jasin), terpancar suatu pernyataan rasa menyesal Iwan Simatupang terhadap kegagalannya untuk memenuhi tuntutan orang tuanya.Harapn orang tuanya ialah agar Iwan Simatupang menjadi seorang dokter.
Masalah Keagamaan
          Tragedi yang kedua yang dialami Iwan ialah sekitar masalah agama.Iwan sebelumnya adalah seorang muslim yang patut dan taat menjalankan ibadah.Kemudian ia beragama Katholik sejak terlibat perdebatan sengit di Surabaya.Penyesalan Iwan Simatupang bukan masalah Katholik atau Islam itu sendiri.Yang menjadi masalah baginya adalah jalan yang brsimpang dua dengan orang tuanya.Ia memilih Katholik sebagai pegangan terakhir bukanlah suatu yang dipaksakan kepadanya, bukan pula suatu pelarian, tetapi memang melalui kesadaran yang disertai oleh pertimbangan yang sehat.
Kematian Istri
           Sejak kematian istrinya, Iwan selalu sakit, dan penyakit itu selalu dating setiap bulan Desember.Sebagai akibatnya Iwan mengalami frustasi yang cukup hebat.Maka mulailah Iwan menekuni kertas-kertas untuk menulis novel. Kisah tentang kematian  istri ini sepenuhnya terbias dalam novel Ziarah.
“MERAHNYA MERAH”
SEBAGAI CERMIN ORISINALITAS IWAN
          Karya-karya Iwan Simatupang merupakan suatu gejala yang pernah mengagetkan konsumennya, mengagetkan konsumennya , mengagetkan kehidupan kesusastraan kita secara keseluruhannya.   Struktur novel Iwan sama dengan struktur novel kesadaran baru yang hidup di barat sana.Cerita dalam novel Merahnya Merah itu sendiri memperlihatkan suatu proses.Tahap pertama dalam kehidupan Tokoh Kita adalah tahap penentuan akan mutlaknya suatu nilai yang dipilih dan dihayatinya.Namun demikian, novel ini berbeda dengan novel transisi, sebab di dalamnya hanya ada satu tokoh utama. Tokoh Fifi, Pak Centeng, Maria, memamng mempunyai pencarian nilainya sendiri-sendiri, yang berkonflik dengan dunia gelandangan yang penuh dengan ketidakpastian itu.
            Novel Iwan seluruhnya, termasuk strukturnya, beranjak dari struktur batin Iwan sendiri yang dicetak oleh lingkungan masa colonial dan masa sesudahnya.Individulisme yang melatarbelakangi sosialisasi dirinya mencetak struktur novel yang berciri pencarian.Iwan adalah tukang baca.Adanya pengaruh-pengaruh  dari karya-karya barat tidak dapat dipungkiri.
KEBUDAYAAN KELONTONG MERAMBAH MASYARAKAT DESA
             Sastrawan Gerson Poyk pada sekitar lima tahun yang lalu (yang dimaksud adalah tahun 1975) pernah merisaukan tentang keadaan masyarakat Indonesia yang sudah kejangkitan barang-barang kelontong.Yaitu barang-barang luks yang ditawarkan lewat iklan pada media massa cetak ataupun elektronik dengan cara yang teramat mempesona.Sebenarnya apa yang dirisaukan oleh Gerson Poyk sudah lebih dulu pernah dirisaukan Iwan Simatupang.Pada tahun 1968 Iwan Simatupang telah menulis novel berjudul Kooong
KEBUDAYAAN KELONTONG
         Kekayaan yang diterima secara mendadak sontak memang tidak saja mengejutkan, tetapi juga mengagetkan mental yang menerima kekayaan itu secara tiba-tiba.Hal demikian ini oleh Iwan Simatupang diamati secara teliti.Iwan Simatupang menilai bahwa kebudayaan kelontong telah masuk dan dimasukkan ke desa.
NOVEL-NOVEL IWAN SIMATUPANG: EKSPERIMEN YANG BERHASIL
            Iwan Simatupang telah membawa kita dalam dunia yang penuh absurditas. Gagasan-gagasan dalam novelnya memberikan suatu sistem yang mengandung arti ketidakpastian. Hal tersebut dilakukan Iwan untuk melakukan eksperimen dalam usahanya mengekploitasi kemungkinan potensial karya sastra yang bergenre novel.
            Kemungkinan potensial lain yang tak luput dari penganamatan Iwan adalah unsur setting/ latar, dan image-image simbolik lewat penamaan tokoh,serta penulisan ejaan.
IWAN SIMATUPANG SASTRAWAN INDONESIA
            Iwan tergolong jenis manusia yang menjadi terkenal, justru setelah ia tiada.”Hidup Iwan laksana sebuah simfoni yang tak terselesaikan,” ungkap Menteri Frans Seda pada saat menghadiri upacara pemakaman Iwan.
            Tanggapan pada novel Merahnya-merah adalah ceritanya efektif karena menggunakan unsur tertentu, seperti ironi. Tanggapan pada novel Ziarah adalah berhasil mengungkapkan segala pikiran, persepsi tokoh mengenai kemanusiaan yang membukakan kesempatan interpretasi yang luas. Tanggapan pada novel Kering adalaah merupakan novel kritik sosial yang paling tajam diantara karya yang lain.
            Iwan menulis secara sangat filosofis dan psikologis. Di mana Iwan memiliki khas tulisan yang abstrak, kontraditif, nasionalistis, terlibat, idealistik, humoristik, dan gaya bahasa yang kuat. Iwan selalu menunjukkan solidaritas dengan rakyat biasa. Iwan diaggap sebagai pembaharu dalam sastra Indonesia.
IWAN SIMATUPANG (1928-1970) MANUSIA HOTEL SALAK KAMAR 52
            Iwan memiliki gagasan bahwa Indonesia saat ini adalah MENCIPTA. Protes atau pemberontakan, lalu-lalang dalam novel Iwan, berupa gabungan antara rasa iba pada diri sendiri, sunyi, takut, merana, dan sebagainya.
            Secara keseluruhan, yang menonjol dalam karya sastra Iwan adalah keasadaran melihat manusa itu dalam nilainya yang serba nisbi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar