Assalamu'alaikum, salam sejahtera bagi kita semua...

SELAMAT DATAAAANG ...
Selamat menikmati blog sederhanaku ..

-Luph U All-

Tampilkan postingan dengan label berbagi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berbagi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Juli 2016

Menengok Blog

Setelah mengikuti sharing dengan mbak Widya tentang BLOG, malam ini setelah saya merevisi buku ajar untuk skripsi saya, saya sempatkan buka blog. Dan... mengejutkan. Ada yang memberi komentar. Dapat komentar di blog itu rasanya menyenangkan. Sangat menyenangkan bahkan. Karena... itu pertanda ada yang datang berkunnjung ke blog saya kemudian bersedia membaca tulisan saya. Tak hanya membaca tapi juga bersedia meninggalkan jejak di komentar. Mendapat perlakuan seperti itu tentu saja membuat saya bahagia.

Jumlah pengunjung pun semakin bertambah. Jadi ingat dulu pertama kali buat blog. Tiap hari selalu dipantau jumlah pengunjungnya. Dulu dapat puluhan pengunjung sudah bahagia. Eh, sekarang blog dianggurin, sekali ditengok udah puluh ribuan yang berkunjung. Ini menunjukkan kalau "Aku menulis, maka aku ada". Ya, menulis itu bentuk eksistensi diri. Eksistensi = ADA.

Terakhir update tulisan bulan Maret 2015. Tulisan terakhir tentang kehamilan. Coba aja bisa rutin berbagi cerita tentang kehamilanku kemarin ya? Seru pasti. Tapi sudah terlanjur. Aila sudah lahir. Mungkin untuk nanti anak kedua kali ya? Hehehe aamiin.

Oh iya, Aila ini adalah nama anak pertama saya. Nama lengkapnya Laila Inayah. Panggilannya Aila. Aila sudah mulai tumbuh besar, kurang beberapa hari lagi usianya sudah 9 bulan.

Foto Aila saat jadi model jilbab anak OR Toko
Postingan kali ini perkenalan dulu saja dengan Aila ya?
Semoga saya tetap istiqomah untuk update tulisan blog ini terus.
Selamat malam...
 

Selasa, 25 Maret 2014

Marsinah Dibiarkan Mati, Lalu Satinah?

"Kepada anakku, Nur, dan semua keluarga saya yang di kampung halaman. Terima kasih aku sudah bisa terina suratmu, sudah aku baca dan aku bahagia, dan aku senang pandang fotomu. Mudah-mudahan aku bisa ketemu"

Itu adalah tulisan Satinah untuk anaknya, Nur Afriana, yang aku kutip dari koran Tribun nomor 1068/tahun 3, Rabu Wage, 26 Maret 2014.

Satinah adalah TKW di Arab Saudi. Dia akan dihukum mati karena dia terbukti membunuh majikan dan mengambil uang 119 juta milik majikannya.

Satinah akan dibebaskan jika membayar diyat 25 Miliar.

Pertama, ternyata seorang pembunuh bisa dimaafkan dengan uang. Ternyata nyawa seseorang bisa dibeli dengan uang.

Kedua, tebusan 25 Miliar belum bisa dipenuhi, Indonesia tidak ada uang tebusan sebesar itu. Yakin, ini udah mirip pemerasan saja. Bisa-bisa, kematian seseorang yang dibunuh bisa menjadi pemasukan negara yang luar biasa.

Ketiga, karena bantuan Indonesia belum mencukupi jumlah diyat, Nur sebagai anaknya berinisiatif untuk meminta bantuan banyak orang. Lalu, kenapa kita harus menyelamatkan seorang pembunuh?

Keempat, Satinah membunuh karena dia dianiya majikannya. Satinah membunuh karena membela diri. Ini yang harus dipertimbangkan kenapa akhirnya Satinah perlu dibela, setidaknya bukan dihukum mati begitu saja.

Kelima, berita Satinah hanya ada di kolom-kolom kecil yang nyempil. Berbeda dengan pesawat yang hilang itu. Isu Satinah dialihkan pada pesawat hilang dan kampanye.

Keenam, Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia Kementerian Luar Negeri ayo unjuk gigi sebelum Satinah mati.

Ketujuh, jangan tunggu Satinah mati baru bersuara. Telat!

Kedelapan, marak sekali kasus penyiksaan TKW.

Apa yang kau cari di luar sana sampai harus meninggalkan tanah kelahiranmu?
Apa di tanah kelahiranmu ini belum bisa memberimu keteduhan di pagi, siang, dan malam?
Apa di tanah kelahiranmu ini belum bisa memberi sesuap nasi?
Apa di tanah kelahiranmu ini begitu kejam pada pendidikan anakmu?
Atau apa?

#SAVESATINAH

Dia Ingin Didengar

Kipas angin sudah berputar kencang seperti semula. Kipas berputar seolah-olah tak ada yang bermasalah. Selalu seperti itu, kadang bermasalah, kadang tidak. Bila malam ini kipas angin itu berputar seperti biasa, maka tak seperti halnya dengan suasana hati dia.

Tiba-tiba malam itu dia menangis. Tak ada alasan lain selain keinginan hati untuk melinangkan air mata. Dia ingin melepas semua kekeringan hatinya lewat air mata.

Dia merasa hari-harinya kosong. Dia ingin merasakan jatuh cinta agar hidupnya berwarna. Tapi, nyatanya seorang kekasih belum cukup untuk memberinya warna.

Dia tidak akan mempersalahkan waktu ataupun jarak. Dia hanya merasa sendiri. Kekasihnya tak cukup waktu untuk menemaninya. Maklum, dia belum cukup dewasa untuk mengerti.

Selama ini, dia hanya berteman imajinasi. Ketika dia butuh kekasihnya, dia bisa menghadirkan lewat imajinasi. Ketika gundah melanda, dia obati dengan imajinasinya.

Dia orang yang punya harapan tinggi pada dunia. Semakin sering berharap, maka semakin sering kecewa pula. Dia mengobati kekecewaannya dengan imajinasinya. Ya, dia nyaman dengan imajinasinya. Kekasih yang tak pernah hadir dalam relung hatinyaa yang sepi, bisa tergantikan dengan sebuah pikiran liar yang dia beri nama imajinasi.

Dia merasa sedang berjalan jauh bersama imajinasinya tanpa peduli dunia.
Malam ini, dia masih memendam kekecewaan yang mendalam. Dia begitu benci pada keadaannya saat ini.

Dia butuh kawan untuk didengar.

"Bukan hanya mempersingkat waktu, melainkan juga mendapatkan esensinya, " ucapnya.

Kipas itu pun berputar, perlahan berhenti. Dia memutar baling-baling kipas dengan tangannya. Kipas kembali berputar. Kipas itu bunyi. Bunyinya mengusik telinga seolah-olah kipas itu ingin mati. Dia hanya berharap bahwa kipas itu akan terus berputar di kala dibutuhkan.
Dia pun kembali menulis. Dia sudah menemukan kembali bagaimana dia bisa produktif untuk menulis dan bagaimana dia bisa bercerita mengalir apa adanya. Itu dia dapatkan karena dia mencoba membuka masa lalu.

Hari itu dia melewati hari-harinya di kamar. Dari pagi, siang, sore, malam, sampai pagi lagi. Kini ia punya kamar tak lagi sekedar hanya untuk numpang tidur, mandi, atau istirahat, tapi kamar itu kini sudah jadi tempat paling sering dia singgahi. Bahkan, dia kerja dalam kamarnya. Kerja apalagi kalau bukan menulis.

Bila ditanya kapan deadline tulisannya, dia bilang, "Setiap hari adalah deadline."

Bukan perkara dia banyak kerjaan sehingga akhirnya setiap hari adalah deadline. Karena dia sudah melewati batas waktu, maka hari-hari berikutnya adalah deadline.

Dia sudah terbiasa untuk melanggar deadline. Dia sudah sering stres karena deadline. Dia nyaris putus asa karena deadline. Tapi, ia tak pernah kapok untuk berurusan dengan deadline karena lewat deadline, dia bisa menghidupi kehidupannya.

Kurang satu judul dan beberapa tulisan yang butuh disunting. Dia ingin sekali segera menyelesaikan tanggungannya. Dia ingin dengan tenang melangkah untuk mengerjakan tugas akhirnya. Dia sudah di bawah tekanan karena beberapa kawannya sudah akan menggelar pesta kelulusan. Kawan-kawannya sudah menulis 1 skripsi, dia masih berkutat dengan 1 buku, 2 buku, 3 buku, 4 buku bahkan. Entahlah, sebenarnya dia tekanan batin juga. Itu adalah pilihannya dan dia tetap melalui itu semua dengan senang ahti, meski sebenarnya terkadang dia cukup merintih.

Kekasihnya sudah menanti kelulusannya, katanya sih mau dinikahi. Ibunya pun juga menantikan kelulusannya, katanya ibunya takut kalau dia menikah tapi belum lulus.

Dia masih saja menjalani semua dengan biasa saja. Dia yakin bisa menyelesaikan semuanya.

"Bukan hanya mempersingkat waktu, melainkan juga mendapatkan esensinya, " ucapnya.

Rabu, 05 Februari 2014

Sedekah atau Denda 1 Juta?

Akhir-akhir ini aku sering menyusuri jalanan Yogyakarta, mulai dari kota, Jl. Magelang, Maguwo, Sleman, Depok, dan lain sebagainya. Jalanan Yogyakarta makin hari makin macet. Belum lagi lampu apill yang banyaknya minta ampun. Sialnya, sering dapet merah.

Yang paling miris saat menyusuri jalanan adalah pengemis di mana-mana. Aku yakin kalian pernah melihatnya. Aku melihat ada anak kecil sedang mengelap motor di belakangku. Aku memperhatikannya lewat kaca spion. Batinku, "Bakal dikasih enggak, ya?" Aku berpikir seperti itu karena kalau dilihat dari mimik wajah pengedara sebenarnya tak ingin motornya dilap atau tak ada niatan untuk memberi. Tapi tampak dari raut wajahnya kalau ia tak tega menolak si anak kecil itu.

Lampu hijau, aku pun melaju, dan aku menemui anak kecil berpakaian lusuh sedang memegang gitar kecil (aku lupa namanya). Cuma bisa menghela nafas panjang. Yah, hampir semua jalanan deh, pengemis ada di mana-mana. Mulai dari anak-anak, perempuan dengan bayinya, ibu dan anaknya, simbah-simbah, waria, orang cacat, sampai orang sehat bugar pun juga ada.

Miris.

Apa orang-orang di negeriku banyak sekali orang miskin?
Apa orang-orang di negeriku sudah tak dapat lagi berpikir?

Entahlah. Antara iba dan benci. Iba karena kondisi mereka. Benci karena mereka terlalu menyerah pada kehidupan. Seolah-olah tidak ada jalan lain selain meminta.

Apa jadinya kalau Peraturan Daerah (Perda) ikut campur dalam hal ini? Ya, Rancangan Perda (Raperda) Yogyakarta akan memberi denda 1 juta rupiah bagi orang yang memberi santunan untuk pengemis. Bahkan, pengamen juga termasuk dalam kategori pengemis. Raperda ini akan disahkan pertengahan Februari nanti.

Mulanya, ketika aku melihat ada tulisan di jalan untuk tidak memberi santunan pada pengemis, aku merasa benci, "Hakku dong mau ngasih apa enggak." Saat itu aku tak peduli, selagi aku ingin memberi, ya, aku beri.

Sampai pada sebuah peringatan kalau lebih baik memberi santunan pada sebuah lembaga, yang terpikirkan olehku adalah, "Yakin, uang santunan itu akan disalurkan?". Saat itu aku berpikir demikian karena berita korupsi ada di mana-mana. Bahkan, untuk makan uang santunan pun aku pikir koruptor masih doyan. Saat itu, aku masih kekeh untuk, "Yang mau ngasih duit ke pengemis, kasih aja, coy!"

Sampai pada akhirnya, berita mulai menunjukkan bahwa penghasilan pengemis selama sebulan bisa jutaan rupiah, rumahnya mewah, dan lain sebagainya. Ini cukup menggiurkan. Bahkan, aku pernah dengar ada yang memilih untuk tidak bekerja dan memilih mengemis. Ada pula yang sebenarnya mampu, tapi cari uang tambahan lewat mengemis. Tapi, setelah dihitung-hitung, penghasilan menjadi pengemis memang luar biasa.

Dalam waktu 1 jam, kemungkinan mendapatkan 15 orang pemberi, ambil paling sedikit Rp500, sudah mendapat Rp7500. Kalau 8 jam, Rp60.000. Kalau sebulan, Rp1.800.000. Ya, lumayan hampir UMR lah ya? Itu baru penghitungan kasar dan ambil paling sedikit. Orang yang memberi pun belum tentu dapat penghasilan yang sama, lho. Di Tribun, penghasilan pengemis malah terhitung bisa mencapai Rp200.000 per hari. Kalau sebulan? Rp6.000.000. Wow!

Enggak usah jadi karyawan pabrik rokok, jadi PNS, atau berdagang, coy! Ngemis aje... cepet kaya. Kenapa? Enggak mau? Enggak mau karena malu atau apa? Dapet duit enem juta meeeen.

Enggak usah nyindir gitu deh. Lu iri? Hak mereka dong mau dapet duit banyak atau enggak selama mengemis, namanya juga usaha. Kan mereka juga usaha untuk dapetin duit.

Kalau berpikir seperti itu, apa jadinya kalau seluruh rakyat Indonesia memilih untuk jadi pengemis?

Ada peminta, ada pemberi. Kalau semua jadi peminta, ya, tidak ada pemberi. Itu enggak mungkin. Ya, paling enggak, tidak semua jadi peminta.

Ah, sudahlah. Pengemis di mana-mana itu perlu ditangani. Penanganan itu akan susah kalau manusia masih punya nurani untuk memberi. Tapi, masa iya memberantas pengemis dengan cara membatasi nurani kebaikan tiap-tiap orang? Nanti apa jadinya kalau semua orang tak lagi punya nurani kebaikan? -___-"

Raperda punya jawaban, "Denda 1 Juta bagi pemberi santunan."

Aku sepakat saja sih, asal para pengemis yang benar-benar pengemis itu terurus. Kalau pun ada santunan yang disalurkan lewat lembaga, ya, yang bener juga, jangan dikorupsi!

Gimana? Sudah siap menolak memberi santunan pada pengemis?

Sepertinya susah. Apa jadinya kalau orang yang memberi santunan didenda 1 juta rupiah? Yang ada pemberi santunan jadi miskin, kemudian dia mengemis. Yah, muter lagi deh.

Tapi tunggu, bukankah orang yang bersedekah itu dilipatkan 10 kali lipat?

Kamu sedekah Rp500. 10 kali lipatnya itu Rp5000. Uang segitu belum bisa bayar denda 1 juta.

Selamat berpikir!

Kamis, 30 Januari 2014

Smackdown dan Masa Laluku

Dari judulnya, jangan dikira kalau aku ini bintang smackdown, lho!

Malam ini sudah malam yang kesekian kalinya aku ikut lembur buku. Ada satu tulisan yang bawa-bawa smackdown, rasanya aku langsung berada pada dunia beberapa tahun yang lalu, tahun 2006 apa ya?

Aku ingat zaman-zaman SMP aku sangat menggilai smackdown. Smackdown tayang pas bulan Ramadhan, aku ingat banget selalu lemburan nonton smackdown dalam keadaan masjid sedang ada tadarusan. Lalu, Abah pulang sambil mengingatkanku untuk segera tidur agar bisa bangun saur, kalau enggak gitu karena besok sekolah, dan lain sebagainya. Aku seringkali jengkel bukan main kalau sudah dibegitukan.

Aku ingat aku sangat menggilai D-Generation X. Ada Shawn Michael dan Triple H. Aku lebih menggemari Shawn Michael dibanding Triple H karena Shawn Michael badannya tak terlalu gemuk, selain itu dia lebih sopan. Shawn jarang pakai sempak doang. Kalau Triple H paling sering tuh. Tak hanya itu, aku menilai Triple H itu curang karena dia seringkali bawa palu dan kursi, kalau Shawn itu kan mainnya sesuai aturan gitu.

Saking menggilainya, aku beli poster beberapa tokoh smackdown idolaku. Selain DX, aku juga suka John Cena. Dia ganteng, pakaiannya selalu sopan, dan sering menang. Hehe.. Suatu ketika ibu pernah bilang kalau ada poster mereka di kamarku, malaikat akan takut untuk menjengukku. Akhirnya, aku putuskan untuk beli poster ayat kursi. Kemudian aku tempel di tengah-tengah poster mereka. Aku bilang pada ibu kalau dengan adanya poster ayat kursi itu malaikat masih mau mengunjungiku. Ibuku rasanya sudah menyerah.


Sampai suatu ketika banyak berita muncul kalau anak-anak mulai meniru adegan smackdown, aku dituduh Abah main smackdown di sekolah. Ya, waktu itu aku pulang karena kacamataku pecah. Abah menuduhku karena aku bermain smackdown kacamataku jadi pecah. Wah, parah! Siswa MTs, pakai rok span dan berkerudung, masa iya smackdown? Aku enggak bisa bayangin deh kaya apa itu rupaku?

Nah, sampai-sampai akhirnya tayangan smackdown tidak boleh tayang, aku menangis sedih merasa kehilangan. Aku tulis rasa kehilanganku itu dan aku tempel pada mading sekolah. Yang melewati mading cukup tertarik mampir membaca tulisanku. Saat itu aku senang bukan kepalang. Coba saja tulisanku waktu itu masih ada bangkainya, seperti apa ya?

Tayangan smackdown sudah tak ada, tapi poster mereka masih menemani malam-malamku. Hingga suatu ketika aku pernah mimpi buruk, tidak nyaman karena wajah ngeri mereka seolah-olah menatapku tajam, lama-lama aku ketakutan sendiri dan aku putuskan untuk mencopot poster itu. Perlahan-lahan aku pun mulai move on, aku melupakan smackdown seiring berjalannya waktu.

Sekarang, aku diingatkan lagi oleh sebuah tulisan kawanku. Wow! Baru saja aku cari tayangan smackdown di youtube. Hmm.. aku berasa mengenang masa lalu. Aku masih saja suka seperti dulu. Aku jadi teringat pada nama-nama mereka, Undertacker, Spirit Squad, Big Show, apalagi ya? Banyak deh. Menyenangkan.

Sampai pada suatu ketika kawanku begitu aneh melihat ulahku, dia melontarkan kalau smackdown itu palsu. Langsung aku cari tahu info itu dan ternyata benar. Aku menyaksikan tayangan yang menunjukkan itu palsu,aku ngekek sejadi-jadinya karena ada adegan yang menjedotkan diri sendiri, belom dijedotin udah jedot duluan. Ya, kalau penasaran cari sendiri deh. Hahaha

Meski aku baru tahu sekarang kalau smackdown itu script, tapi aku tetap salut. Mereka keren lho bisa berakting seperti itu. Kalau film action lain kan ada "cut". Kalau smackdown? Kepukul beneran, sakit beneran, ya, bisa jadi. Kalau sakit beneran, ya, tetep lanjut. Bahkan, untuk menciptakan darah, di antara mereka harus menyobek bagia dahi mereka. Ada pula yang menggunakan darah palsu sih. Ah, tapi tetep keren menurutku. Bahkan, ada yang benar-benar mati saat beraksi. Dia adalah Owen Heart. Entahlah, aku masih penasaran atas kematiannya itu, kenapa akhirnya dia bisa keluar script dan mati.

Intinya, aku senang. Besok kalau ada kesempatan lagi aku mau download ah, dan aku bisa nonton sepuasnya. Nyam nyaaaam...

Kamu suka smackdown juga? Sana nonton dan mari kita berdiskusi.

Rabu, 29 Januari 2014

Deadline Oh Deathline

Penyesalan itu selalu datang di akhir.
Lalu, akankah kau mencoba berharap agar penyesalan datang lebih awal? Kalau iya, untuk apa?
Aku lebih berharap agar penyesalan itu tak pernah hadir dalam kehidupan.
Aku sudah terlalu sering menyesal, tapi tak kunjung kapok juga.
Soal apa? Cinta? NO!
Urusan cinta, aku cukup waspada. Sekalinya menyakitkan aku akan sangat berhati-hati.
Tapi tidak pada deadline. 
Ya, aku seringkali membuat deadline tapi kemudian mengingkarinya.
Aku begitu menghargai deadline, sayangnya aku tidak menaatinya, hanya sekedar menghargai saja. Melihat-lihat tanggal deadline, membayang-bayang bak kekasih pujaan hati, rasanya begitu bahagia karena aku punya deadline. Saking menikmati itu, aku tak kunjung jua mengerjakannya.
Hingga ketika deadline itu sudah mendekat, aku seringkali panik bukan kepalang.
Stres.
Tak kukerjakan, curhat gak jelas seperti ini.
Mengeluh jatuhnya.
Baiklah, aku punya deadline menulis.
Tapi, argh...
Selamat tidur saja.

Minggu, 26 Januari 2014

Bully Aku

Terlalu perfeksionis itu tidak baik.

Melakukan banyak hal dan menuntut untuk sempurna itu juga tidak baik, bikin tertekan, dan akhirnya malah enggak mulai-mulai. Sama seperti halnya dengan blog ini. Karena dituntut kesempurnaan, akhirnya malah enggak update tulisan. So What?

Serius! Bukannya aku banyak alasan enggak bisa nulis. Tapi memang, orang-orang di sekitarku sangat perfeksionis, Men. Sangar dikit, norak dikit, uuuh aku bakal di-bully habis-habisan. Nah, ini media nyebarnya gampang banget apalagi banyak stalker. Hm, udah berasa ngetop aja nih aku.

Ya, sudahlah. Ngetik apa saja, sesukaku, yang penting blogku terlihat hidup.
Kalau ingin menghidupkan kembali blog ini, harusnya aku lebih niat lagi dalam menulis donk ya?
Ah, tapi terlalu ribet, yang penting ikhlas. Biar nyampah kayak gini yang penting aku sudah menunjukkan motivasi menulisku. Haha..

Sebenarnya aku terinspirasi dengan kawanku Margareta Fernandoza, panggilannya Ratih. Ah, sepertinya aku salah tulis nama lengkapnya. Dia seringkali banyak tanya tentang blog dan aku risih bukan kepalang. Risih sekalian iri karena sepertinya dia akan aktif di blog. Dan aku enggak mau kalah.

Demi Blog, pasti tulisan geje seperti ini bisa jadi di-bully. Ah, ya sudahlah, mau sok baik pun juga tetep di-bully.

Kalau mau menghidupkan blogku ini, wah.. sepertinya blog ini lama-lama akan jadi diary. Hehe....
Setelah memindah diary ke twitter, aku mau pindah diary ke blog saja ah, biar makin di-bully. Loh?

Minggu, 12 Mei 2013

Aku Bilang, Ini Sangat Menyedihkan


Aku bilang ini menyedihkan. Bahkan, sangat menyedihkan. Bangun tak bisa pagi, tugas kuliah banyak yang terbengkalai, jauh dari pacar, duit tak ada, motor tak bisa hidup karena jarang dipakai karena bannya entah bocor atau kempes, hendak diperbaiki juga tak ada uang. Tapi satu, beruntung sudah sarapan. Ujung-ujungnya, hidup jadi kegiatan berkeluh kesah, tiada guna, sungguh. Ya, namanya saja menyedihkan. Wajar.
Kamar berantakan, hidup jadi ikut berantakan. Kacau. Entah harus ditata dari mana. Entah mengapa aku begitu yakin akar permasalahan ini ada pada uang. Ini bukan persoalan menghamba pada uang atau bukan, tapi ini menyangkut kebutuhan. Entah berbicara soal sudut pandangku menilai uang atau bukan, tapi yang jelas, aku butuh uang. Ini jujur tanpa rekayasa, tanpa ada sisipan kemunafikan, very very real! Tidak dipungkiri kalau aku butuh uang dan sangat butuh uang. Kan, aku sudah mengulanginya berulang-ulang. Lagi, aku butuh uang. Tidak ada uang itu menyiksa.
Coba kalau ada uang, aku tidak akan pusing memikirkan cucianku yang belum dicuci dan disetrika. Tinggal naruh di laundry.
Coba kalau ada uang, aku bisa makan ketika aku lapar, tidak pusing-pusing harus menghitung hari ini aku sudah makan berapa kali, aku mau makan apa, atau harus mengira-ngira nasi di magicom sudah berapa hari.
Coba kalau ada uang, aku bisa membenahi motorku di bengkel dan aku bisa beraktivitas dengan lancar ke sana ke mari.
Coba kalau ada uang, aku bisa beli deposit, jualan pulsaku lancar, lumayan nambah pemasukan.
Karena tidak ada uang, aku harus putar otak untuk mendapatkan uang.
Mau kerja parttime, terbentur waktu senggang. Mau mengajar, tapi tidak ada job. Toh, lagi-lagi terbentur dengan waktu senggang. Mau jualan di online shop, tapi koneksi tidak lancar, sepi juga. Mau ikut lomba menulis berhadiah uang pembinaan, tapi harus bayar uang pendaftaran, serius mau pakai uang apa? Tiap malam harus lembur nulis ini itu untuk cari pemasukan yang masih bisa disambi, tapi nyatanya belum keturutan juga dapat duit dari menulis. Lembur menyita waktu istirahat, bangun jadi siang, waktu senggang berkurang, cucian belum tersentuh, nasi pun juga tak terjamah, kamar berantakan, istirahat makin tak tenang. Haish, berantakan. Akhirnya, waktu senggang digunakan untuk mengeluh. Ya, seperti ini. Bodoh!
Mau melakukan ini, kepikiran itu. Mau melakukan itu, kepikiran yang lain. Duh, Gusti!

Sabtu, 16 Maret 2013

Pulang Kampung itu…

stasiun kediri

Setiba di stasiun, wanita berwajah keibu-ibuan menantiku dengan motor yang ia tumpangi. Di sisi lain, ada lelaki berwajah keayah-ayahan menantiku dengan mobil tua yang ia tunggangi. Nah, dua orang sama-sama menantiku. Wanita itu bernama ibuku. Sedang lelaki itu bernama ayahku. Seringkali seperti itu. Jika anak gadisnya pulang kampung, tidak ada koordinasi jelas siapa yang akan menjemput. Akhirnya, aku harus memilih satu di antara keduanya. Alhamdulillah keadaan seperti ini tidak membuat mereka beradu untuk memperebutkanku. Meski akhirnya jatuh pada pilihan di antara keduanya, bagi yang tak terpilih pun juga tidak ada dendam. Keduanya bisa saling mengerti.

Belum sampai di rumah, entah aku bersama ibuku atau ayahku, keduanya selalu menawarkan untuk makan sebelum menginjak rumah. Wah, menyenangkan sekali. Tawaran makan di luar rumah itu sudah menjadi hal biasa karena kedua orang tuaku adalah buruh pemerintah yang jarang makan di rumah.

Setiba di tempat makan. Mereka selalu menawariku untuk memilih menu ‘amis’, seperti ikan, ayam, atau telur. Ah, telur tidak sering sih, paling sering ditawari daging. Kalau aku memilih tempe atau telur, mereka mempertanyakan lagi keyakinanku. Ya, bagi mereka anak kos harus perbaikan gizi. Bagiku, lebih tepatnya makan enak, karena tempe pun juga bergizi.

Hm.. cap sebagai anak kos yang jarang dapat uang kiriman seperti aku ini seringkali menjadi tamu agung jika pulang ke rumah. Wajar jika akhirnya untuk menu makanan, aku memiliki kekuasaan penuh untuk dituruti. Mulai dari makan ayam, ayam, ayam, dan ayam (beruntung mukaku tak serupa ayam) hingga makan durian, durian, durian, dan mendem durian (jatuh sakit, oh NO!). Ya, aku bahagia soal makanan.

selamat datang di rumah :)
Namun, di sisi kebahagiaan itu, aku pun sering menahan lapar. Bangun pagi, makanan belum ada, kedua orang tuaku sibuk bersiap diri berangkat kerja. Akhirnya, aku harus berburu makan sendiri. Siang, mereka menyempatkan pulang ke rumah untuk mengantarkan makanan, meski kadang mereka tidak menyempatkannya, lalu lagi-lagi aku harus berburu makanan sendiri. Nah, masa-masa jam seperti inilah tamu agung sepertiku sudah tak lagi agung. Mereka tiba di rumah, rumah harus bersih dan rapi. Jika tidak, selalu muncul lontaran, “Di rumah kok cuma malas-malasan?” Paling sering, mereka pulang ke rumah hanya untuk berkomentar, “Awan-awan, perawane kok sik turu? (Siang-siang, perawannya kok masih tidur?).” Sore, mereka tiba di rumah, keduanya sibuk ngurusi TPA di masjid.  Malam, kadang mereka ada di rumah, kadang punya acara di luar, entah ikut pengajian lah, entah ada acara apa pun lah. Kalau pun di rumah, paling sering, ya, nonton televisi. Isya berakhir, biasanya ibu memilih tidur, abah pergi masih dengan kesibukannya, entah di masjid, pos kamling, atau di rumah kawannya. Rasanya suram sekali. Bertemu mereka hanya sebentar. Sudah jarang pulang kampung, di rumah pun jarang bertemu.

Tapi, setidaknya bisa melihat mereka berdua setiap hari sudah menjadi satu kebahagiaan. Apalagi kalau hari libur, mereka merencanakan untuk berlibur entah itu ke pantai, karaokean, atau jalan-jalan entah ke mana. Yah, kejutan seperti itu seringkali ada meski hanya 1 dari 10 kemungkinan.

Jika akhirnya aku memilih untuk mencari hiburan dengan kawanku. Ibu seringkali berkirim pesan “Di mana?”, “Posisi?”, dan lain-lain. Padahal, kalau aku di rumah, aku jarang dianggap. Haduh! Tapi, ini menunjukkan sebenarnya ibu ingin menghabiskan waktu denganku ketika ia tiba di rumah, Hehe. Ibu kepingin ketika dia tiba, anaknya menyambut kedatangannya. Ya, kupikir seperti itu.

Ketika akhirnya aku merencanakan tanggal balik ke Yogyakarta, seringkali ibu menghasutku untuk menunda. Bahkan, terkadang ibu menghasutku untuk bolos kuliah sehari atau dua hari. He. Mungkin, ini karena aku jarang pulang kampung.

Bukan berarti aku harus pulang kampung lebih sering. Ibu selalu mendukung kegiatanku, bahkan ia lebih sepakat aku banyak kegiatan (asal bermanfaat) daripada keseringan pulang ke rumah enggak ngapa-ngapain. Kecuali, di rumah ada acara tertentu yang mengharuskanku untuk menghadirinya. Yang jelas, tidak pernah ada paksaan, ibu selalu mengerti keadaanku jika akhirnya aku tak bisa pulang ke rumah segera. Meskipun hampir dapat dipastikan seminggu sekali selalu ada pesan darinya “Ibu kangen”. (bajigur! Aku nangis saat nulis paragraf ini). Jadi pengen pulang kampung…. Huwaaaaaaaaaaaaaaaa :'(
'
Itu saja kisah pulang kampungku. Mana kisah pulang kampungmu?

kediri oh kediri
#Semoga tahun depan aku bawa lelakiku pulang ke kampungku, hwaaaak :D

Rabu, 27 Februari 2013

Cinta atau Sayang?



Senin (25/02), Gedung Kuliah 1 Fakultas Bahasa dan Seni di ruang 312 kalau tidak salah. Hari itu salah satu kawanku, Pius, dia mengungkapkan misinya bahwa ia sedang melakukan survei pada beberapa wanita. Kali itu, ia sedang mendekati Eci-Pius bilang Eci adalah wanita jenis agak kelaki-lakian. Aku duduk di depan mereka. Sengaja, aku tak menyimak obrolan mereka. Entah apa yang mereka obrolkan kala kuliah Sosiolinguistik berlangsung saat itu, yang jelas mereka cukup berisik. Sempat, Eci mengusikku dengan pertanyaan “Kalau ditembak cowok, milih katakan cinta atau sayang?”. Aku berpikir lama untuk itu, namun aku putuskan untuk tak menjawabnya.
Hari ini, Rabu (27/02), di gedung yang sama, namun di ruang yang berbeda, yaitu 301. Lagi-lagi, Pius di belakangku. Ia menanyakan kembali pertanyaan yang pernah dilontarkan Eci. Aku rasa aku menjadi salah satu wanita yang disurvei, entah pada tataran wanita jenis apa hingga aku dijadikan sampel si Pius.
Pertanyaan pertama, “Kalau ditembak cowok, milih katakan cinta atau sayang?”. Aku jawab, “Cinta.”
Pertanyaan kedua, “Ketika menyatakan cinta pada perempuan, perlukah menggunakan media seperti boneka, bunga, atau apa pun?”. Aku jawab, “Tidak. Termasuk media SMS, itu tidak. Lebih baik secara langsung, tatap muka.”
Dua pertanyaan itu yang kuingat. Pius mengucapkan terima kasih, itu tanda survei yang dia lakukan sudah selesai.
“Hanya itu?” pikirku.
Entahlah, kenapa dia tak mencoba menanyakan alasanku? Kupikir survei akan lebih pas bila disertai alasan. Toh, pertanyaan cuma ada dua. Tapi, ya, itu terserah dia juga.
Tiba-tiba, dia kembali bertanya, “Zodiakmu apa?”. Aku jawab, “Scorpio.” “Woo, kalajengking,” timpalnya.
Entahlah, aku tak mengerti apa tujuan dari surveinya itu. Yang jelas dia sedang tidak membuat skripsi.
Dari pertanyaan yang dilontarkan Pius, aku mulai menangkap bahwa cinta dan sayang dibedakan. Entah bagaimana perbedaan posisi keduanya. Aku menjawab “Cinta” karena memang kupikir untuk masa pertama kali “menembak”, akan lebih pas kata “cinta”, bukan “sayang”. Kenapa? Ah, sayangnya Pius tidak menanyakan alasanku, aku jadi enggan untuk menjelaskannya.
Satu hal yang kemudian akhirnya membuatku memilih “cinta” adalah….
“Aku tak setuju kalau kau bilang bahwa cinta tak butuh alasan, tapi kalau kaukatakan bahwa cinta tak harus nyata dalam kata, aku sepakat. Juga jika kau katakan bahwa cinta tak harus berbalas. Kuungkapkan semua karena aku percaya bahwa cinta itu sangat rasional. Kita pasti punya alasan mengapa kita mencintai seseorang atau sesuatu. Itulah sebabnya mengapa aku katakan jangan sampai kau dibutakan oleh cinta. Cinta tak hanya memberi, apalagi hanya menerima. Cinta adalah paduan antara keduanya. Memberi dan menerima. Kau paham, bukan? Kita harus punya alasan mengapa kita mencintai seseorang atau sesuatu. Kau mesti tahu bahwa orang yang berkata dia mencintai sesuatu tanpa alasan adalah bodoh.” (Sekumpulan Surat kepada Cinta: 55-56)
Satu hal, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), posisi “cinta” memiliki pengertian yang lebih tinggi dibanding “sayang”. Cinta menurut KBBI adalah sayang benar. Lihatlah, ada kebenaran dalam cinta, yaitu sayang. Bukan berarti aku menolak “sayang”. Aku hanya lebih memilih “cinta”. Ya, aku memilih cinta dan dia-yang di Jakarta.
Dua hal selanjutnya, aku berharap Pius berbagi kesimpulan dari hasil surveinya.
Salam cinta!

Minggu, 21 Oktober 2012

Gerakan Sayang Ibu

Setelah alarm bedering untuk kedua kalinya, tiba-tiba dering panggilan masuk berbunyi. Bundaq. Pagi itu ia minta dijemput di SMP 1 Purworejo. Ya, tiba-tiba ia tiba di Purworejo. Padahal, baru kemarin ia bilang tak bisa ke Purworejo karena tak direstui suaminya-abahku. Baru kemarin juga ia bilang bahwa sebenarnya ia sudah rindu padaku-anaknya.
Rindu. Aku sedang membicarakan rindu. Sejak Mas Ain di Jakarta, hampir setiap waktu aku merindukannya. Hampir seringkali aku bilang padanya bahwa aku rindu. Lain halnya dengan ibuku. Hampir bisa dipastikan bahwa aku merindukan ibu kala teringat padanya saja (Jelas saja, aku lebih sering komunikasi dengan Mas Ain tiap waktu, jelas saja sering teringat padanya). Perlu dipertanyakan pula kapan aku bilang rindu pada ibu. Belum lagi aku rela bila harus keluar pulsa mahal kala ingin sekali menghubungi Mas Ain, sedang pada ibu, aku seringkali memintanya yang meneleponku. Apakah kalian pernah merasakan hal serupa?
Aku mencintai ibuku. Aku juga mencintai Mas Ain. Namun, usaha percintaanku pada keduanya terasa berbeda. Seperti aku menempatkan ibuku setelah Mas Ain, padahal Mas Ain belum menjadi suamiku.
Ketika aku benar-benar rindu dengan Mas Ain, banyak cara aku lakukan agar segera bertemu dengannya. Bahkan, satu waktu aku istimewakan untuk bersamanya. Sedang ibuku? Hampir seringkali aku bilang padanya, “Maaf, aku sibuk. Ada acara ini, acara itu, tanggungan ini, tanggungan itu, bla bla bla.” Jawaban ibu, ”Tidak usah dipaksa, selesaikan tugas-tugasmu.” Begitu rela ia menahan rindu. Terkadang, “Maaf, aku belum bisa pulang ke Kediri minggu ini.” Ibu bilang tak apa, namun kemudian tiba-tiba ia di Yogyakarta, menemuiku. Aku hanya mengaguminya.
Baru ini aku menyadari semua. Awalnya ibu terlalu berlebihan ketika bilang rindu. Aku menganggap bahwa ucapan “aku kangen” darinya hanyalah sebuah guyonan belaka. Baru kemarin aku mendengar dari seorang wanita, ia seorang ibu juga. Katanya, seorang ibu seringkali merindukan anaknya, namun jarang sekali anaknya merindukan ibunya. Ibunya selalu memikirkan anaknya, sudah makan kah, pegang uang berapa, sedang di mana, sehat kah, bahkan menyempatkan untuk menjenguknya sekali waktu. Mirisnya adalah seorang anak ingat ibu ketika ia tak pegang uang. Haish..
Hari ini ibu benar-benar datang di sela-sela kesibukannya untuk menemui anaknya. Ini sudah bukan yang pertama kalinya. Sebenarnya aku kasihan pada ibu, pasti lelah sekali selama perjalanan. Tapi, setelah aku pikir-pikir, itu adalah rindu yang memang tak bisa tertahan, benar-benar ingin bertemu. Oh, ibu. Bahagia betul aku punya ibu sepertinya. Ketika aku rindu, ia selalu hadir menemuiku. Entahlah, telah habis kata, semoga Allah memuliakannya, karena bagiku ia perempuan yang mulia. Ibu….
Kini, telah tiba pada GERAKAN SAYANG IBU. Mari bahagiakan kedua orang tua kita, manfaatkan waktu yang telah disediakan… Jangan sampai penyesalan datang. Selamat pagi!
love my mom

Minggu, 14 Oktober 2012

LDR Edisi Romantis #1

"Satu satu aku sayang kamu
Dua dua aku sayang kamu
Tiga tiga aku sayang kamu
Satu dua tiga aku sayang kamu"

"Satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan sembilan sepuluh aku sayang kamu"

Tuh kan... sejak LDR, Mas ain jadi romantis. Bawaannya nggombal mulu, haha..

Tawaran Baru dari Penggalangan Dana Online dengan Marimembantu.org

Pernah suatu ketika, saya mendapat sebuah pesan singkat dari teman saya. Isinya menanyakan apa golongan darah saya. Katanya, jika golongan darah saya O, maka saya diminta segera ke Rumah Sakit A untuk berkenan menyumbang darah karena ada pasien yang sangat membutuhkan darah bergolongan O tersebut.

Pernah pula suatu ketika, saya mengendarai motor dan berhenti di perempatan lampu lalu lintas. Saya melihat ada palangan reklame yang isinya dilarang memberi uang pada peminta-minta ketika sedang berhenti di jalan. Katanya sih, lebih baik disalurkan pada lembaga saja.

Pernah suatu ketika, saya mendapati iklan peminjaman modal usaha tanpa jaminan apapun. Namun, setelah diselidik, untuk mendapatkan modal pinjaman tersebut harus melakukan beberapa syarat yang kurang masuk akal, seperti memfotokopi kertas sebanyak mungkin untuk disebar.

Terdapat benang merah di sini. Ada yang membutuhkan bantuan dan dibutuhkan bantuannya (nya-kembali pada seseorang yang mampu membantu-red). Pertama, pihak yang membutuhkan. Kedua, ingin membantu, namun terbatas. Ketiga, dapat tawaran bantuan, namun meragukan.

LembagaZakat Dompet Dhuafa hadir sebagai solusi. Pertama kali yang syaa temukan darinya adalah tawaran Mudahsedekah secara online dengan Marimembantu.org. Saya membuka webnya, saya melihat di sana ada deskripsi permohonan membutuhkan bantuan dana untuk kesembuhan seseorang, ada juga butuh bantuan dana untuk suatu lembaga, ada pula permohonan modal usaha. Dari sini lah, seorang pemohon atau yang membutuhkan bantuan bisa mengutarakan maksud kehendaknya. Kemudian, bagi kita yang hendak membantu, bisa dengan mudah menyatakan persetujuan untuk membantu, klik, bantuan terkirim, selesai. Ingin meminta bantuan tak diragukan lagi, ingin membantu pun juga tak ragu karena sudah dinaungi oleh lembaga yang bisa dipercaya-alamat kantor jelas dan disertai identitas lembaga.

Hampir mirip dengan belanja online, kita bisa memilih barang mana yang akan kita beli. Di LembagaZakat Dompet Dhuafa, kita bisa memilih ‘mana’ yang hendak kita bantu. Berbagi dan bersedekah pun mudah dilakukan. Hampir sama juga dengan model lembaga penyalur bantuan, hanya saja, LembagaZakat Dompet Dhuafa adalah versi dalam bentuk online. Ibarat kata, banyak jalan menuju Roma.

Kalau mudah, kenapa harus dipersulit? Penyebaran info melalui online begitu mudah dan cepat. Maka, sistem yang dilakukan LembagaZakat Dompet Dhuafa jika disambut dengan baik, saya yakin, lembaga ini akan berkembang dan saling menguntungkan bagi yang membutuhkan dan yang dibutuhkan.

Karena…

“Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya.”
Ade Rakhma Novita Sari